SEKILAS INFO
: - Friday, 14-12-2018
  • 3 bulan yang lalu / Hadirilah maulid Agung Majlis Nurul Musthofa “Kelahiran Penyelamat Yang Dijanjikan” Senin Tanggal 19 November 2018 Pukul 20.00 wib Bertempat Lap.Silang Monas Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat
  • 5 bulan yang lalu / Majlis Malam Selasa  Nurul Musthofa Masjid Jami At Taubah  Jl. Rawajati Timur II Kalibata  Jakarta Selatan, Senin Tgl. 22 Oktober 2018 Pukul 20.00 WIB Acara Ini Akan Disiarkan Langsung Oleh Siaran Nurul Musthofa Via Youtube Nurul Musthofa
  • 5 bulan yang lalu / Ikuti  Umroh Bersama Al Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf dan Habib Abdullah Bin Ja’far Assegaf Pada Tgl. 15 Desember 2018 Hanya dengan Biaya 20 Juta dan DP 3 Juta Hubungi segera (021) 7865854 ,08111103712 , 08136395560 ,  081291888327
Kisah Raja Tubba' & Rasulullah SAW

Tubba’ Ia adalah gelar bagi raja yang berkuasa atas tiga bangsa besar di Negeri Yaman yaitu Himyar, Saba’, dan Hadhramaut.

Ada beberapa kemungkinan, kenapa raja-raja Yaman digelari Tubba’. Sebagian menilai dikarenakan raja ini banyak ditaati oleh raja-raja yang berada di sepanjang pesisir Yaman. Memang, ada hubungan makna dengan asal kata tubba’ yaitu (تبع) yang maknanya adalah ditaati.

Pendapat lain menyebutkan bahwa penamaan raja Yaman dengan gelar tubba’ dikarenakan ia selalu mengikuti arah terbitnya matahari, ibarat bayangan yang selalu muncul di tempat manapun yang mendapat pancaran sinar mentari. Maksudnya, tubba’ diberi kekuatan untuk berjalan dan menjelajah muka bumi, berekspansi ke berbagai penjuru dunia. Di manapun matahari itu terbit di suatu negeri maka negeri itu pun berusaha ia tuju dan ia taklukkan hingga bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.
Al imam Ibnu Katsir dan para ahli sejarah menuturkan bahwa Tubba’ yang disebut dalam Al Quran bernama As’ad Abu Kuraib. Berkuasa selama 326 tahun.

Raja Tubba’ melakukan perjalanan dari Yaman ke berbagai negara di temani oleh 400 orang ulama’.
Di dalam perjalanannya, beliau telah singgah di beberapa negeri dan di setiap tempat itu, beliau akan pilih 10 orang para Ulama’ untuk bersama-samanya di dalam perjalanan beliau… Sehinggalah beliau mengumpulkan hampir 400 orang Ulama’ bersama dengan bala tentaranya yang berjumlah sangat banyak… kurang lebih 113 ribu orang tentera pejalan kaki dan 133 ribu orang bala tentera yang berkuda… Setelah sampai di setiap negeri, kesemua negeri itu akan menyambut Raja Tubba’ dengan penuh kemeriahan & penuh pengagungan ketika menyambut kedatangan rombongan Raja Tubba’…
Begitulah keadaaannya, setiap kali memasuki suatu negeri, sang raja selalu dielu-elukan dan dimuliakan…

Hingga akhirnya sampailah ia di kota Mekkah AlMukarromah, tidak seperti penduduk negeri yang lain, warga Mekkah tidak memberikan sambutan hangat dan sikap itu membuat Raja Tubba’ heran. “Mengapa penduduk Mekkah tidak memuliakan kita?” tanya Raja kepada para ulama’ yang menemaninya dalam perjalanan. “Mereka adalah penduduk Mekkah, para tetangga kabah rumahnya Allah SWT dimuka bumi, sehingga seluruh bangsa Arab sangat menghormati dan memuliakan mereka, itulah sebabnya mereka tidak memuliakan dan mengagungkanmu”. jawab para ulama’. Dari situlah timbul niat buruk di hati sang Raja Tubba’, untuk menghancurkan Ka’bah batu demi batu.
Allah SWT yang Maha mengetahui atas segalanya, segera menurunkan bala’, berupa Penyakit di kepala, hingga kepala sang Raja membusuk.Orang-orang pun tidak ada yang mau duduk di dekatnya, karena bau busuk yang di sebarkan oleh penyakit tersebut.
Telah banyak para tabib yang telah berusaha menyembuhkan penyakit sang Raja, namun mereka semua tidak menemukan obat penyakit yang diderita oleh sang Raja Tubba’.
Para ulama’ yang menemaninya merasa heran dan semakin penasaran, dalam hati mereka mengatakan : “Mengapa kami tidak dapat menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit sang Raja? Padahal telah banyak tabib yang memeriksanya dan mencoba mengibatinya”.
Tiba-tiba seorang alim dari para ulama berkata kepada Raja : “Akan aku beritahukan obat penyakitmu, tapi hanya engkau seorang yang boleh mendengarnya”. Maka Raja Tubba’ pun memerintahkan semua orang yang sedang bersamanya untuk meninggalkan mereka berdua. “Nah, sekarang mereka telah keluar. Sekarang, katakan padaku, apa obat penyakitku ini?”. tanya sang Raja.
“Akan kuberitahukan obatnya, tapi setelah engkau menceritakan apa yang kau niatkan dan kau sembunyikan dalam hatimu”. jawab orang alim itu.
“Aku memang menyimpan niat buruk dalam hatiku, yaitu hendak menghancurkan Ka’bah batu demi batu. Sebab warga disini tidak mengagungkan dan memuliakan kita”. Ucap sang Raja.
Orang Alim itu pun berkata : “Ketahuilah, Sesungguhnya niat buruk inilah yang menyebabkan Allah SWT murka dan memberimu penyakit. Maka sekarang, jika engkau ingin sembuh, maka urungkan niatmu itu, dan semoga Allah SWT mengampunimu”. “Baiklah kalau begitu, saat ini juga kubatalkan niat burukku untuk menghancurkan Ka’bah”. ucap sang Raja menyesali niatnya.
Maka Seketika itu juga Allah SWT menyembuhkan penyakitnya.

Setelah beberapa hari tinggal di mekkah, sang Raja bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke daerah yastrib yang terkenal kelak dengan nama Madinah Al Munawwarah.
Setelah Sesampainya di Madinah, para Ulama yang menemaninya berkata : “Kami ingin tinggal di sini”. Saat itu Madinah masih berupa hamparan kosong yang tandus. “Bukankah kita telah sepakat untuk melakukan perjalanan bersama?” Kata Raja.
“Ya, tetapi kami tetap ingin tinggal disini”. Kata para Ulama bersikeras. “Apakah yang menyebabkan kalian ingin menetap di sini?” Tanya sang Raja keheranan.
Para Ulama berkata : “Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat hijrahnya Nabi akhir zaman..Dalam waktu dekat, Beliau akan di utus dan berhijrah ke tempat ini, Kami ingin anak cucu kami kelak akan menjadi para pengikut dan Sahabat-sahabat Nabi akhir zaman tersebut”.
Maka sang Raja pun berkata : “Jika memang demikian, Aku akan menulis sepucuk surat untuk Nabi akhir zaman tersebut, dan aku titipkan kepada kalian, serahkan surat itu jika Beliau telah di utus dan berhijrah ke tempat ini”. Setelah itu Raja Tubba’ menulis sebuah surat yang isinya :

Dari Raja Tubba’ , untuk Nabi Akhir Zaman.

“Amma ba’du, Sesungguhnya Aku beriman kapadaMu, dan beriman kepada Kitab yang di turunkan kepadaMu. Aku berada di dalam agama dan sunnahMu. Aku beriman kepada TuhanMu, Tuhannya segsla sesuatu, dan Aku beriman pada Syariat Islam yang bersumber dari TuhanMu. Jika Aku dapat bertemu denganMu, itu adalsh suatu keni’matan besar bagiku., namun jika tidak, maka berilah aku syafaatMu, dan di hari qiamat nanti jangan lupakan aku, karena Aku adalah ummatMu yang terdahulu, dan Aku telah berbai’at padaMu sebelum Engkau di Utus oleh TuhanMu. Aku memeluk agamamu dan agama Ibrahim As”.

Kemudian Raja Tubba’ mengakhiri surat itu dengan kalimat :

ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ۚ
“Bagi Alloh lah segala perkara Sebelum dan Sesudahnya”.
(ArRum/30:4).

Surat itu kemudian di setempel, dan di serahkan kepada orang alim yang telah menyembuhkan penyakitnya. “Simpan baik-baik surat ini”. pesan sang Raja. yang kemudian melanjutkan perjalanan.

Para Ulama’ pengikut Raja Tubba’ adalah Kakek Moyang Para Sahabat Anshor penduduk madinah.
Dan Orang Alim yang dititipi surat sang Raja Tubba’ adalah Kakek Leluhur dari Abu Ayyub Al Anshori ra.
Ketika Nabi SAW telah di utus sebagai Rosul dan berhijrah ke madinah, dan beliau menempati rumah kediaman Abu Ayyub maka ia menyerahkan langsung surat Raja Tubba’ tersebut yang masih rapih terjaga kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Raja Tubba’ meninggal dunia Tepat 1000 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW di utus oleh Allah SWT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Alamat Kami

Nurul Musthofa Ind

NPSN : (021) 7865854

Jl. RM Kahfi I Gg.Manggis Rt.001 Rw.001 No.9A Kel.Ciganjur
KEC. Jagakarsa
KAB. Jakarta Selatan
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 12630
TELEPON 08111900677
FAX (021) 7865854
EMAIL yayasan.nurulmusthofa@gmail.com

Google Maps Majlis

Ikuti Sosial Kami