Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
SEKILAS INFO
: - Thursday, 17-01-2019
  • 4 bulan yang lalu / Hadirilah maulid Agung Majlis Nurul Musthofa “Kelahiran Penyelamat Yang Dijanjikan” Senin Tanggal 19 November 2018 Pukul 20.00 wib Bertempat Lap.Silang Monas Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat
  • 6 bulan yang lalu / Majlis Malam Selasa  Nurul Musthofa Masjid Jami At Taubah  Jl. Rawajati Timur II Kalibata  Jakarta Selatan, Senin Tgl. 22 Oktober 2018 Pukul 20.00 WIB Acara Ini Akan Disiarkan Langsung Oleh Siaran Nurul Musthofa Via Youtube Nurul Musthofa
  • 7 bulan yang lalu / Ikuti  Umroh Bersama Al Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf dan Habib Abdullah Bin Ja’far Assegaf Pada Tgl. 15 Desember 2018 Hanya dengan Biaya 20 Juta dan DP 3 Juta Hubungi segera (021) 7865854 ,08111103712 , 08136395560 ,  081291888327
Pembukaan majelis aqidatul awwam (Aqidah untuk orang awam)

 

Ilmu Tauhid dinamakan juga Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam, Ilmu Akidah

Definisi ilmu Tauhid:
Ilmu yang mampu untuk menetapkan aqidah agama yang diambil dari dalil-dalil yang meyakinkan sehingga dengan ilmu tersebut dapat mengetahui segala sesuatu yang wajib, mustahil, dan jaiz (boleh) bagi Allah swt maupun bagi Rasul saw serta keadaan akhirat kelak.

Objek pembahasannya: Dzat & sifat-sifat Allah SWT serta para Rasul-Nya, kitab-kitabNya, para malaikat-Nya dan lain sebagainya

Penggagas ilmu tauhid : Semua para nabi & Rasul mulai dari nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW
Menurut pendapat yang lainnya pencetusnya itu adalah al-Asya’irah (para ulama yang bermadzhabkan kepada Al Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam akidah) dan al-Maturidiyah (para ulama yang bermadzhabkan kepada Al Imam Abu mansyur al-Maturidi) yang mereka semua telah membukukan literatur-literatur tauhid dalam rangka membantah faham muktazilah & lainnya yang tidak sesuai dengan mazhab ahli sunnah wal jama’ah

Hukum mempelajari : Fardhu Kifayah

Korelasi : menjadi dasar bagi ilmu-ilmu agama lainnya.

Permasalahan : hal-hal yang wajib, mustahil dan boleh

Sumber : dari Al-Qur’an, hadist dan rasio

Fungsi : menjadi syarat sah amal di dunia

Keutamaan : membuat seorang hamba kenal kepada sang pencipta & mendapat rida Allah swt sekaligus menyebabkan masuk ke dalam surga-Nya

SEJARAH TENTANG AQIDAH ahli SUNNAH wal JAMAAH

Nabi Muhammad SAW sudah memprediksi akan terpecah belah kepahaman dari umatnya dalam hadist yang diriwatkan oleh imam Tabhrani

افترقت اليهود على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وافترقت النصارى على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة ، وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، الناجية منها واحدة والباقون هلكى. قيل: ومن الناجية ؟ قال: أهل السنة والجماعة. قيل: وما السنة والجماعة؟ قال: ما انا عليه اليوم و أصحابه »

“orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan. Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka. Ditanyakan’Siapakah yang selamat itu?’ Rasulullah SAWmenjawab, ‘Ahlusunnah wal Jama’ah’. Dan kemudian ditanyakan lagi, ‘apakah assunah wal jama’ah itu?’Beliau menjawab, ‘Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan beserta para sahabat)’

Bahwasanya mulai munculnya paham-paham yang melenceng dari ajaran murni Rasulullah SAW bersama para sahabat
Dimulai dari zaman imam Hasan Al Basyri
Sewaktu ada seseorang bertanya kepada beliau tentang hukum orang mu’min yang telah berbuat dosa besar, apakah orang tersebut masih dihukumi orang yang beriman seperti pendapatnya kaum khawarij atau perbuatan dosa tersebut tidak berefek sama sekali kepada keimanan sebagaimana ketaatan tidak berefek sama sekali kepada kekafiran sebagaimana pendapat nya kaum murji’ah?
Maka Al Imam Hasan menundukkan kepalanya seraya memikirkan jawabannya maka tiba-tiba bangunlah dimajelis tersebut seorang yang bernama Washil bin Atho’ seraya dia berkata:
Saya tidak mengatakan pendosa yang telah berbuat dosa besar itu orang yang beriman secara mutlak & juga menjadi kafir secara mutlak…
Lalu dia meninggalkan majelis Imam Hasan Al Basyri kemudian dia mulai menyendiri dan mengajarkan kepahaman nya bahwa manusia itu terbagi 3: orang beriman, orang kafir dan orang yang tidak beriman & tidak juga kafir yaitu orang yang telah berbuat dosa besar jika sampai meninggal dunia tidak sempat bertaubat.
ketika itu imam Hasan berkata: “Telah berpisah menyendiri washil dari kita.”
Maka orang-orang pun menyebut dia & para pengikut nya dengan nama kaum mu’tazilah.

Hingga akhirnya paham tersebut menyebar dan dianut oleh para penguasa yang memerintah diwaktu kekuasaan dinasti abbasiyah lalu munculah seorang pemuda yang keturunan dari sahabat Nabi yang bernama Abu Musa Al Asy’ari, beliau bernama
Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdilah bin Musa bin Amir Bashroh Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdulloh bin Qois bin Hadhor Al-Asy’ari Al-Yamani,
beliau dibesarkan dengan paham mu’tazilah hingga umur beliau mencapai 40 tahun

SEBAB TAUBAT ABUL HASAN AL-ASY’ARI

Asy-Syaikh Hammad al-Anshari menyebutkan sebab bertaubatnya Abul Hasan rahimahullah. Dihikayatkan dari Abul Hasan, “Sejak beberapa malam, di dadaku muncul (ganjalan) tentang masalah-masalah akidah. Aku pun bangun melaksanakan shalat dua rakaat dan meminta agar Allah Subhanahuwata’ala memberi hidayah jalan yang lurus kepadaku. Kemudian aku pun tidur. Ketika tidur aku bermimpi melihat Rasulullah. Aku keluhkan kepada beliau sebagian masalahku. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku’, lalu aku terbangun.”

Beliau sebenarnya dibesarkan dengan paham mu’tazilah hingga usia beliau mencapai 40 tahun maka mulailah beliau mengkoreksi tantang kepahaman mu’tazilah kepada gurunya sekaligus ayah tirinya sendiri seorang imam mu’tazilah yaitu Abu Ali Al jubba’i

Berikut ini dialog antara Abu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba`i:

Al Asy`ary (A) : Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut anda?

Al Jubba`i (B) : Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya dan orang kafir masuk ke dalam neraka.

A : Bagaimana dengan anak kecil?

B : Anak kecil tidak akan masuk neraka

A : Dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?

B : Tidak, kerana dia tidak pernah berbuat baik

A : kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa dia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan

B : Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat.

A : kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka.

Abu Ali Al Jubba`i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat digunakan.

Abu al Hasan Al Asy`ary dalam meninjau masalah ini selalu berdasar kepada sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya maka aqidah yang disusunnya lebih dikenali dengan
Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

Akhirnya banyak diantara imam-imam besar semuanya bermazhabkan aqidah tersebut, diantaranya seperti Imam Nawawi (ulama fikih dan hadis, penulis kitab Riyadhus Shalihin), Ibnu Katsir (ulama tafsir, penulis Tafsir Ibnu Katsir), Imam Ghazali (ulama tasawuf, penulis kitab Ihya Ulumuddin), dan Imam As-Suyuthi (penulis kitab Asbabun Nuzul), serta beberapa imam mazhab fikih maupun ulama hadis lainnya,
Ajaran Imam Asy’ari yang menjadi ciri khas dari aliran Asy’ariyah yang paling terkenal adalah tentang pembagian sifat Allah dan Nabi yang dikenal sebagai sifat 50, dimana Allah memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat ja’iz, sementara nabi memiliki 4 sifat wajib, 4 sifat mustahil, dan 1 sifat ja’iz. Ajaran ini juga dikenal dengan sifat 20 ketika dinisbatkan kepada Allah SWT. Hingga kita mengenalnya didaerah kita dengan pembacaan sifat 20 yang sering dibaca disetiap pengajian dimushola atau di masjid.

1 Wujud = Ada
2) Qidam = Dahulu
3) Baqa’ = Kekal
4) Mukhalafatuhu lil hawadits = Berbeda dengan ciptaan-Nya
5) Qiyamuhu binafsihi = Berdiri dengan sendirinya
6) Wahdaniyyah = Esa atau Tunggal
7) Qudrah = Berkuasa
8) Iradah = Berkehendak
9) Ilmu = Mengetahui
10) Hayat = Hidup
11) Sam’un = Mendengar
12) Basar = Melihat
13) Kalam = Berkata
14) Qadirun = Yang Berkuasa
15) Muridun = Yang maha berkehendak
16) Alimun = Yang maha mengetahui
17) Hayyun = Yang maha Hidup
18) Sami’un = Yang Mendengar
19) Basirun = Yang maha Melihat
20) Mutakallimun = Yang maha berbicara

Adapun kitab tauhid yang kita baca adalah Aqidatul awwam karangan As-Sayyid Ahmad Al Marzuqy yang bernasab kepada Rasulullah SAW

Beliau As-Sayyid Ahmad bin Al-Sayyid Ramadhan Bin Mansour Bin Al-Sayyid Muhammad Bin Syams Al-Din Muhammad Bin Al-Sayyid Ro’is bin Sayyid Zayn al-Din bin Nasib al-Din bin Nasser al-Din bin Muhammad bin Qasim bin Mohammed bin Ibrahim bin Muhammad bin Marzouq al-Kafafi bin Musa bin Abdullah al-Mahd bin Imam Hassan al – Mutshanna ibn Imam Hassan al – Sibth Ibnu Imam Ali bin Abi Thalib sekaligus cucu Rasulullah SAW dari putrinya As-Sayyidah Fathimah Az Zahra

KISAH PENGARANGAN KITAB AQIDATUL AWWAM

Suatu ketika pada awal malam jumat tanggal 6 rajab 1258 H pengarang nadhom (semoga Alloh memberikan rahmat kepadanya) bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Sedang para sahabat r.a sedang duduk mengelilingi. Kemudian Beliau berkata pada pengarang nadhom (Muhammad al-Marzuqi Al-Hasani): “Bacalah Mandhumah (susunan bait Syair) tauhid, barang siapa hafal mandhumah itu akan masuk surga dan akan memperoleh kebaikan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah”. Pengarang kembali bertanya : “Apa Mandhumah itu ya Rosulullah?”, para sahabat ikut berkata : “dengarkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW”. Rasulullah SAW berkata : “Ucapkanlah :
أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ
saya memulai dengan nama Alloh dan nama Dzat Maha Pengasih”.

Maka Sayyid Ahmad Marzuqi pun mengucapkan
أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ

“saya memulai dengan nama Alloh dan nama Dzat yang Maha Pengasih”

Sampai dengan akhir Nadzhom yaitu
وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ
فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

“kitab nabi Khalil (Nabi Ibrahim) dan Al Kalim (Nabi Musa). Dalam kitab suci mereka terdapat kalam Dzat yang Maha Bijaksana lagi mengetahui”.
Dan Rasulullah SAW mendengarkannya seluruh bacaannya.
Ketika As-Sayyid Ahmad al-Marzuqi Al-Hasani bangun dari tidurnya, beliau membaca apa yang beliau lihat dalam mimpinya, dan ternyata Nadzhom tersebut telah dihafal dari awal sampai akhir nadzhom.

Kemudian beliau melihat Rasulullah SAW kedua kalinya pada tanggal 28 Dzul hijjah tepatnya malam jumat yaitu waktu menjelang subuh (sahur). Waktu itu Rasulullah SAW mengatakan : “bacalah apa yang engkau kumpulkan dalam hatimu”. Kemudian pengarang membacanya dari awal hingga akhir bait. Waktu itu beliau sedang duduk di depan Rasulullah SAW dan para sahabat R.A. duduk mengelilingi mengucapkan: “Amin” setiap bait dari mandzumah ini dibacakan. Ketika beliau selesai membacanya, Rasulullah SAW berkata : “semoga Allah SWT memberikan petunjuk padamu terhadap apa yang dia ridhoi dan menerima itu semua darimu, dan memberkatimu dan orang-orang mukmin, serta bermanfaat pada semua hamba, Amin”.

Ketika pengarang nadzhom ditanya mengenai nadhom itu setelah diteliti oleh ulama’, beliau menjawab pertanyaan mereka semua dan
Kitab Nadzhom ‘Aqidatul awam semula hanya berisi 26 bait , namun karena rasa cinta dan rindunya Sayyid Ahmad Marzuqi kepada Nabi Muhammad saw maka beliau menambahkan hingga mencapai 57 Bait Nadzhom.
mulai dari perkataannya:

وَكُلُّ مَاأَتَى بِهِ الرَّسُوْلُ
فَحَقُهُ التَسْلِيْمُ وَالْقَبُوْلُ

“Dan setiap apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW maka konsekwensinya adalah pasrah dan menerima” hingga akhir bait dalam kitab.

Kitab Nadzhom ‘Aqidatul ‘Awam berisi pokok-pokok keyakinan ajaran Islam yang dijadikan sebagai pegangan bagi kaum Muslimin . Di dalamnya menjelaskan tentang ilmu tauhid dan dasar-dasarnya. Ilmu tauhid ini menjelaskan tentang keesaan Allah dan pembuktiannya. Dalam kitab tersebut menjelaskan sifat-sifat Allah, atau yang disebut ‘aqoid lima puluh.

‘Aqoid lima puluh itu terdiri dari, 20 sifat yang wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, serta 4 sifat wajib bagi Para Rasul, 4 sifat mustahil bagi para Rasul dan 1 sifat jaiz bagi para Rasul. Semua merupakan isi dari ajaran yang terangkum dalam kitab ‘Aqidatul Awam.

Kewajiban mengetahui 50 keyakinan tersebut diperuntukkan, baik bagi laki-laki maupun perempuan yang telah mukallaf. Kewajiban mengetahui 50 keyakinan tersebut tak hanya untuk diketahui tapi juga dimengerti, sehingga umat Islam boleh mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat, yang hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Alamat Kami

Nurul Musthofa Ind

NPSN : (021) 7865854

Jl. RM Kahfi I Gg.Manggis Rt.001 Rw.001 No.9A Kel.Ciganjur
KEC. Jagakarsa
KAB. Jakarta Selatan
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 12630
TELEPON 08111900677
FAX (021) 7865854
EMAIL yayasan.nurulmusthofa@gmail.com

Google Maps Majlis

Ikuti Sosial Kami