SEKILAS INFO
: - Friday, 14-12-2018
  • 3 bulan yang lalu / Hadirilah maulid Agung Majlis Nurul Musthofa “Kelahiran Penyelamat Yang Dijanjikan” Senin Tanggal 19 November 2018 Pukul 20.00 wib Bertempat Lap.Silang Monas Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat
  • 5 bulan yang lalu / Majlis Malam Selasa  Nurul Musthofa Masjid Jami At Taubah  Jl. Rawajati Timur II Kalibata  Jakarta Selatan, Senin Tgl. 22 Oktober 2018 Pukul 20.00 WIB Acara Ini Akan Disiarkan Langsung Oleh Siaran Nurul Musthofa Via Youtube Nurul Musthofa
  • 5 bulan yang lalu / Ikuti  Umroh Bersama Al Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf dan Habib Abdullah Bin Ja’far Assegaf Pada Tgl. 15 Desember 2018 Hanya dengan Biaya 20 Juta dan DP 3 Juta Hubungi segera (021) 7865854 ,08111103712 , 08136395560 ,  081291888327
Mengapa seorang syarifah hanya boleh menikah dengan habib saja?

Tentang masalah kafa’ah (persamaan keselarasan dalam menikah antara calon istri dengan suami)
Telah diterjemahkan dalam Ayat alquran yang mengisyaratkan kafa’ah nasab
Dalam alquran surat al-Hujurat ayat 13, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”.
Ayat ini menunjukkan adanya kafaah dalam segi agama dan akhlaq. Allah SWT menjadikan orang-orang yang bertaqwa lebih utama dari orang-orang yang tidak bertaqwa.
dalil lain yang mendukung kedua hal itu adalah surat al-Zumar ayat 9 tentang berbedanya orang yang berilmu (karena keutamaan ilmu yang orang alim miliki) dengan orang yang bodoh tidak berilmu, yang berbunyi:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, Tidaklah sama orang-orang yang tahu dengan orang-orang yang tidak mengetahui”.
Dan tentang perbedaannya orang-orang yang baik dengan orang-orang yang keji, dalam surat al-Nur ayat 26, yang berbunyi:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.”
Dan telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori, dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah saw bersabda:
تنكح المرأة لأربع لمالها ولجمالها ولحسبها ولدينها
“Wanita itu dinikahi karena 4 hal karena hartanya, kecantikannya, hartanya, keturunannya dan agamanya.
Berkata Imam Ibnu Hajar, yang berhubungan dengan asal-usul keturunan (hasab) adalah kemuliaan leluhur dan kerabat, asal-usul keturunannya… ‘. Yang dimaksud dengan asal-usul keturunannya adalah kemuliaan nasab keturunannya.
Dalam hal ini orang yang keturunan bangsa Arab adalah kufu ‘(sepadan / sama) antara satu dengan lainnya.Hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa Rasulullah bersabda:
العرب للعرب اكفاء …
“Orang-orang Arab satu dengan yang lain adalah sekufu ‘…”

Demikian pula orang orang Quraisy dengan Quraisy lainnya. Karena itu laki-laki yang bukan Arab (Ajam) tidak sekufu ‘dengan wanita-wanita Arab. Laki-laki Arab juga bukan dari golongan Quraisy tidak sekufu ‘dengan wanita Quraisy.
Menurut Imam Syafi’i: Laki-laki Quraisy tidak sepadan (tidak sekufu ‘) dengan wanita Bani Hasyim. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:
إنّ الله اصطفى بني كنانة من بني إسماعيل واصطفى من بني كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم
“Bahwasanya Allah swt memilih Kinanah dari anak-anak Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim …”
Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan Bani Hasyim. Allah SWT telah memuliakan mereka dengan memilih rasul-Nya dari golongan mereka. Hal ini menunjukkan kemuliaan yang Allah SWT berikan kepada ahlul bait Nabi SAW . Imam al-Baihaqi menggunakan hadits ini sebagai dasar dari kafaah dalam hal nasab.
Dalam kitab Makarim al-Akhlaq ada hadits yang berbunyi:
إنما انا بشر مثلكم أتزوّج فيكم وأزوّجكم إلا فاطمة فإن تزويجها نزل من السّماء, ونظر رسول الله إلى أولاد علي وجعفر فقال بناتنا لبنينا وبنونا لبناتنا
‘Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa yang kawin dengan kalian dan mengawinkan anak-anakku kepada kalian, kecuali perkawinan anakku Fathimah. Sesungguhnya perkawinan Fathimah adalah perintah yang diturunkan dari langit (telah ditentukan oleh Allah SWT). Kemudian Rasulullah SAW kepada anak-anak Ali dan anak-anak Ja’far, dan beliau berkata: Anak-anak perempuan kami hanya menikah dengan anak-anak laki-laki, dan anak-anak laki-laki kami hanya menikah dengan anak-anak perempuan kami.”
Para ulama seperti Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Syafii dalam masalah kafa’ah sependapat dengan pendapat khalifah Umar bin Khattab yang mengatakan:
لأمنعن فزوج ذوات الأحساب إلا من الأكفاء
‘Aku melarang wanita-wanita dari keturunan mulia (syarifah) menikah dengan lelaki yang tidak setaraf dengannya’.

Walaupun kebanyakan ahli fiqih berpendapat bahwa kafa’ah merupakan hak bagi perempuan dan walinya. Seorang wali perempuan tidak boleh mengawinkan anak perempuannya dengan lelaki yang tidak sekufu’ dengannya, kecuali dengan ridha anak perempuannya dan ridha segenap walinya. Jika para wali dan perempuannya ridha maka ia boleh dikawinkan, sebab para wali berhak menghalangi kawinnya perempuan dengan laki-laki yang tidak sepadan (tidak kufu’).

KESIMPULANNYA

Kafa-ah adalah kesesuaian antara suami dengan istri. Semua orang yang berakal menganggap yang namanya kafa-ah. Jadi kafa-ah itu sudah menjadi sebuah kesepakatan. Maka sungguh aneh jika ada orang yang mengingkari kafa-ah. Disadari atau tidak seorang bapak yang mempunyai seorang putri saat hendak mencarikan suami untuk putrinya akan memilih calon suami yang sepadan atau bahkan lebih dari putrinya sendiri dalam kecakapan keahlian pekerjaaan, kekayaan atau nasab.

Kafa-ah adalah untuk menjaga kelanggengan & kelestarian dalam sebuah pernikahan, agar tidak terjadi hal-hal yang merendahkan pihak suami dari pihak istri dikarenakan istri lebih tinggi derajatnya, ekonomi keuangannya, nasab keturunannya.
Sehingga di dalam Islam, kafa-ah sangat penting dan sangat diperhatikan. Akan terjadi permasalahan dikemudian hari jika mentiadakan akan adanya kafa-ah dalam pernikahan. Dan itu tidak termasuk diskriminasi. Bukan juga termasuk kasta, karena tidak ada kasta di dalam agama Islam. Akan tetapi dengan adanya kafa-ah ini berarti islam ingin mempertahankan agar umur pernikahan menjadi langgeng, lestari dan tidak ada yang saling merendahkan karena sebab status sosial.
Maka semua yang memiliki nasab kepada Nabi SAW, yaitu para Habaib dan Syaraif, mereka akan selalu menjaga putri-putrinya agar tidak menikah dengan orang yang bukan Syarif / bukan Sayyid. Dan ini adalah hak mereka untuk menjaganya kemuliaan nasab mereka.

1 komentar

Saiful Muchzany, Monday, 16 Jul 2018

Alhamdulillah .. dapat pemahaman ilmu.
Terimakasih Nurul musthofa .

Reply

TINGGALKAN KOMENTAR

Alamat Kami

Nurul Musthofa Ind

NPSN : (021) 7865854

Jl. RM Kahfi I Gg.Manggis Rt.001 Rw.001 No.9A Kel.Ciganjur
KEC. Jagakarsa
KAB. Jakarta Selatan
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 12630
TELEPON 08111900677
FAX (021) 7865854
EMAIL yayasan.nurulmusthofa@gmail.com

Google Maps Majlis

Ikuti Sosial Kami